Selamat Menempuh Hidup Baru My Luvly Sister….
“Barakallahu laka wa baraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair”
Hari ini, Minggu 25 Oktober 2009. Kaka’ pertama saya akhirnya menikah juga… Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira, mengingat usianya sudah tidak muda lagi. Setiap saudara yang mendengar kabar baik ini (Insya Allah…) mengaku terharu. “Akhirnya….” Begitu mungkin yang mereka ucapkan. Disaat Akad nikah pun, banjir air mata (bahagia) keluar dari semua keluarga. Terutama sih yag perempuan, dan terutama lagi Mamah sm adik2nya yg belum menikah. Termasuk saya. Hehe… *blushing*
Kaka’ pertama saya itu, adalah perempuan tangguh yang saya kenal! Terus terang, cukup kagum dengan dia. Sepeninggal Bapa’, dia yang menjadi penopang hidup keluarga. Syukur Alhamdulillah, dia memiliki otak yg encer. Dari kuliah pertama kali (Sebetulnya pernah ditentang Bapa’ juga awalnya. Harap maklum saja, Bapa’ hanya seorang PNS beranak 7 yang merasa tidak sanggup menyekolahkan anak2nya sampai bangku kuliah) dia diterima di sekolah tinggi kedinasan milik pemerintah yang setelah lulus bisa menjadi PNS. Walau Cuma D-3, tapi akhirnya bisa meneruskan S-1 di IPB dengan beasiswa juga. Terakhir, dia kuliah S2 di Jepang, atas bantuan Bea Siswa juga!
Terus terang, yang menjadi pemicu saya bertekad bisa lulus menembus STAN dulu juga karena dia. Waktu masih duduk di kelas 2 SMA, setelah penjurusan, Kaka’ saya pernah bilang “Kalau kamu bisa masuk STAN, teteh mau bantu biayain” (FYI, kuliah di STAN itu gratis. Buku gratis, semua keperluan kuliah gratis. Biayanya Cuma untuk kost dan makan sehari2 aja). Dan waktu itu, saya rela menyisihkan sedikit kebahagiaan masa remaja dengan belajar..belajar..dan belajar. Untuk bisa menembus STAN, selama 2 tahun itu, saya di-kursus-in Akuntansi. Dan saya ga menyesal. Alhamdulillah Pengorbanan yang setimpal dengan hasilnya. Bisa masuk kuliah kedinasan yg semuanya serba gratis, lulus langsung kerja jadi PNS.
MENIKAH…mungkin itu bukan tujuan hidup yang paling utama. Tapi siapa sih yang mau dibilang “Perawan Tua”? Umur udah amat sangat cukup untuk menikah, hidup udah mapan, megang jabatan udah, adik2 sudah semua mapan juga. Bahkan beberapa diantaranya juga sudah menikah. Maka ketika My Luvly sister telah dipertemukan jodohnya, semua ikut berbahagia. Termasuk saya… Dan ternyata memang benar. Allah itu blom ngasih jodoh bukan karena dia ga’ sayang sama kita. Beberapa kali mengalami kegagalan, bahkan nyaris beberapa kali udah mau dilamar, ternyata baru bertemu jodohnya sekarang. Saya percaya, Tuhan akan menyimpan jodoh kita disaat yang TEPAT. Saat yang tepat menurut kita, belum tentu saat yang tepat menurut Tuhan. Kita sudah yakin jodoh kita si A, namun ternyata Tuhan memutuskannya untuk tidak bersama kita. Mungkin dia bukan jodoh yang terbaik.
Akhirul kata, Selamat menempuh hidup baru buat teteh-ku tercinta. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warrohmah. Selamanya, sampai maut memisahkan kalian. Jangan sampai ada hati yang terluka lagi. Semoga semua bisa bahagia, termasuk Mamah yang sudah lama menantikan menantu2 yang Insya Allah yang terbaik dimata kita dan tentunya juga dimata Tuhan. Semoga adik2nya cepat menyusul, mendapatkan jodohnya yang terbaik, yang bukan seorang bajingan. Ulangi ah sekali lagi: Yang bukan seorang bajingan!
Ehm…Tapi ada ga enaknya juga nih. Kini semua mata tertuju pada saya: “KAPAN NYUSUL?” Arrrrghhhhh….!!!!! Dengan pasang tampang senyum, dijawab dengan lemah lembut (bukan desperate loh!) “Minta do’anya saja ya…”. Alhamdulillah…kan banyak yg Do’ain tuh akhirnya
Malahan Om saya yang di Jakarta (yang selalu mau jodoh2in ponakannya) bilang gini : “Ayo main ke tempat Om. Banyak calon disana. Tentara yang suka main music juga ada.”. Haha…si Om ini, mentang2 saya suka musik, dan dia tinggalnya di deket komplek TNI. Jadinya nawarin yang seperti itu. Aya2 wae….
on October 30th, 2009 at 8:52 pm
Ada kalimat laen selaen ‘Kapan Nyusul’? Ayo..be creative muehehehe…